Benteng Vredeburg: Saksi Sejarah Yogyakarta

19 Aug 2013

Benteng Vredeburg bukan museum biasa. Lebih dari itu, benteng yang terletak di kawasan Titik Nol Kilometer ini adalah saksi dari perjalanan panjang sejarah Yogyakarta sekurun waktu tiga era. Era Kolonial, Pemerintah Militer Jepang, sampai kini Indonesia merdeka. Ini loji paling tua dari keseluruhan kompleks bangunan Indis yang berada di kawasan “Titik Nol Kilometer”. Kini, benteng ini sudah dialih-fungsikan menjadi museum yang merekam perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya.

***

Dulunya, berdasarkan catatan sejarah, Benteng Vredeburg bernama Rustenburg. Setelah sebelumnya dikembangkan dari sebuah parit perlindungan atau bunker para serdadu Belanda yang dibangun tahun 1761 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, raja Yogyakarta, atas permintaan pemerintah kolonial Belanda. Tujuannya, menjaga keamanan sultan beserta keratonnya. Walaupun, tentu saja, maksud sebenarnya adalah demi mempermudah pihak Belanda mengawasi gerak-gerik sultan.

Ketika masih berbentuk parit perlindungan, bangunan itu masih sangat sederhana. Hanya berbentuk bujur sangkar dengan empat bastion atau sekela (tempat penjagaan) di tiap sudut. Di mana, masing-masing bastion memiliki nama yang cukup unik, yaitu: “Jayawisesa” (Barat Laut), “Jayapurusa” (Timur Laut), “Jayaprakosaningprang” (Barat Daya), dan “Jayaprayitna” (Tenggara). Adalah Frans Haak, yang kemudian mengubah wajah parit itu menjadi bentuk benteng dengan mengambil model benteng Eropa pada 1765. Hal tersebut dapat dilihat dari ciri-cirinya, seperti parit dalam yang mengelilingi bangunan, menara pengawas di tiap sudut, serta tembok lebar yang memungkinkan adanya serdadu patroli. Semuanya masih utuh dan terpelihara dengan baik hingga kini.

Konsep Frans Haak tersebut berjalan tersendat-sendat. Sehingga, baru bisa diselesaikan lebih dari dua dasawarsa sejak digulirkan. Ada dua hal yang menyebabkannya. Pertama, sultan tidak berkenan menyelesaikannya karena tengah sibuk merancang dan membangun Pesanggrahan Ayodya menjadi Keraton Kasultanan Ngayogyakarta pada 1775, sejak pecah kongsi dengan Surakarta yang ditandai Perjanjian Giyanti (1755). Kedua, tak ada tenaga kerja dari penduduk lokal yang turut membangunnya.

Dalam rentang 1769-1787, semasa Gubernur Belanda W.H. Ossenberg menjabat, konsep benteng Frans Haak diperkuat dengan usulan membuat bangunan menjadi permanen. Setelah pembangunan selesai, parit perlindungan itu dinamai Rustenburg (benteng peristirahatan). Pada 1867, Yogyakarta digoncang gempa yang merusak beberapa bangunan, termasuk Rustenburg. Segera setelah renovasi dirampungkan, nama Vredeburg (benteng perdamaian) dipakai untuk menggantikan nama Rustenburg. Meskipun dinamai benteng perdamaian, Benteng Vredeburg merupakan simbol yang melambangkan hubungan Belanda dengan Yogyakarta yang selalu diwarnai ketegangan.

Banyak hal pernah terjadi di Benteng Vredeburg. Termasuk, dijadikannya Benteng Vredeburg sebagai markas Garnizun 072 dan TNI (Tentara Nasional Indonesia) Batalyon Infanteri 403 saat Revolusi Kemerdekaan Indonesia tengah berlangsung. Pada 1981, Benteng Vredeburg ditetapkan sebagai daerah cagar budaya. Kemudian, pada 1992, secara resmi ditetapkan sebagai Museum Khusus Sejarah Perjuangan Nasional Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Kini, Belanda sudah tak lagi bercokol di sana dan Yogyakarta telah meleburkan diri dalam wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Wajah Benteng Vredeburg pun berubah, lebih bersahabat. Siapapun dan darimana pun dapat mengunjunginya, untuk menikmati peninggalan bersejarah atau menapak-tilasi sejarah perjuangan yang terekam dalam diarama-diarama di sana.

Benteng Vredeburg sangat mudah ditemukan. Museum ini berlokasi di tempat yang cukup strategis - sebelah timur pinggir jalan Malioboro paling selatan. Sehingga, bisa dicapai dari seluruh penjuru arah mata angin. Tiket masuk dihargai Rp 2.500 (2013).[]


TAGS museum benteng vredeburg yogyakarta malioboro sri sultan hb i rustenburg sejarah indonesia


-

Author

Follow Me